Hati atau liver merupakan organ internal terbesar sekaligus pusat metabolisme utama di dalam tubuh manusia. Organ ini menjalankan ratusan fungsi vital secara simultan, mulai dari menetralkan racun, memproduksi cairan empedu untuk pencernaan lemak, menyintesis protein plasma darah, hingga menyimpan cadangan energi dalam bentuk glikogen. Mengingat beban kerjanya yang sangat kompleks dan bersentuhan langsung dengan seluruh aliran darah dari saluran pencernaan, jaringan hati sangat rentan mengalami kerusakan struktural. Ketika terjadi cedera seluler, infeksi, atau penumpukan zat beracun, hati akan merespons secara fisiologis melalui pembesaran volume jaringan yang melebihi batas anatomis normalnya.
Hepatomegali adalah pembesaran abnormal organ hati akibat peradangan, penumpukan lemak, infeksi, atau bendungan cairan yang dipicu oleh penyakit tertentu.
Penyebab pembengkakan hati paling umum dalam era modern adalah penyakit perlemakan hati (fatty liver disease). Kondisi ini terbagi menjadi perlemakan hati terkait disfungsi metabolik (Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease / MASLD) dan perlemakan hati akibat konsumsi alkohol kronis. Akumulasi trigliserida yang berlebih di dalam sel-sel hepatosit memicu stres oksidatif dan peradangan lokal (steatohepatitis). Apabila dibiarkan tanpa perubahan gaya hidup, peradangan terus-menerus ini akan merangsang pembentukan jaringan parut fibrotik yang mengubah tekstur hati menjadi keras dan membesar sebelum akhirnya berujung pada sirosis atau kegagalan fungsi organ.
Selain faktor metabolik, infeksi virus hepatitis—terutama hepatitis B dan C kronis—tetap menjadi pemicu utama inflamasi hati di berbagai belahan dunia. Reaksi sistem imun tubuh yang berupaya membasmi partikel virus justru merusak sel-sel parenkim hati, menimbulkan pembengkakan menyeluruh pada jaringan organ. Di samping infeksi virus, hepatomegali juga dapat dipicu oleh faktor hemodinamik, seperti gagal jantung kongestif sisi kanan. Saat bilik kanan jantung melemah, darah vena kembali terbendung ke pembuluh darah besar (vena kava inferior) dan vena hepatika, menciptakan kongesti pasif yang membuat hati membesar dan terasa tegang akibat limpahan cairan darah.

Pada fase awal, hepatomegali kerap kali tidak menimbulkan gejala klinis yang spesifik (silent condition). Keluhan baru dirasakan pasien ketika kapsul pembungkus hati (Glisson’s capsule) teregang, memicu sensasi begah, rasa penuh, atau nyeri tumpul di area perut kanan atas tepat di bawah tulang rusuk. Tanda bahaya lain mencakup warna kulit dan mata yang menguning (ikterus), urine berwarna gelap seperti air teh, mual persisten, serta pembengkakan pada tungkai. Deteksi dini melalui palpasi abdomen oleh dokter, pemeriksaan enzim transaminase (SGOT/SGPT), serta ultrasonografi (USG) abdomen sangat krusial agar intervensi medis dapat segera dilakukan sebelum terjadi kerusakan jaringan parenkim hati yang bersifat ireversibel.