Perbedaan Rematik dan Osteoporosis

Rematik dan osteoporosis sering dianggap sebagai penyakit yang sama karena keduanya dapat menyebabkan nyeri dan gangguan pada tulang atau sendi. Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda, baik dari penyebab, bagian tubuh yang terdampak, maupun cara penanganannya.

Memahami perbedaan rematik dan osteoporosis penting agar seseorang tidak salah mengenali keluhan yang dialami. Nyeri sendi, tubuh terasa kaku, atau kesulitan bergerak memang dapat ditemukan pada berbagai kondisi kesehatan. Namun, tidak semua nyeri tulang atau sendi berarti rematik, begitu pula tidak semua masalah tulang berkaitan dengan osteoporosis.

Artikel ini membahas perbedaan rematik dan osteoporosis secara sederhana, mulai dari pengertian, penyebab, gejala, faktor risiko, hingga langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan tulang dan sendi. Apabila anda mengalami berbagai gangguan sejenis itu, segera hubungi Terapi Penyembuhan Pennasia 081-331-551-900 Jl. Purimas Regency Bol B3 no 57 Gunung Anyar Surabaya.

Apa Itu Rematik?

Istilah rematik sering digunakan masyarakat untuk menggambarkan berbagai penyakit yang menimbulkan nyeri pada sendi, otot, maupun jaringan di sekitar sendi. Salah satu jenis yang cukup dikenal adalah rheumatoid arthritis, yaitu penyakit autoimun yang dapat menyebabkan peradangan pada lapisan sendi.

Pada rheumatoid arthritis, sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan tubuh sendiri sehingga menimbulkan peradangan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan sendi terasa nyeri, bengkak, kaku, dan sulit digerakkan.

Rematik tidak hanya dialami oleh orang lanjut usia. Beberapa jenis penyakit rematik dapat terjadi pada orang yang lebih muda. Oleh karena itu, usia bukan satu-satunya faktor yang menentukan seseorang mengalami rematik.

Apa Itu Osteoporosis?

Osteoporosis adalah kondisi ketika kepadatan dan kualitas tulang menurun sehingga tulang menjadi lebih rapuh dan mudah mengalami patah.

Osteoporosis sering berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal. Seseorang bahkan dapat tidak menyadari dirinya mengalami osteoporosis sampai terjadi patah tulang akibat benturan ringan atau jatuh.

Bagian tubuh yang sering mengalami patah akibat osteoporosis antara lain tulang panggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan.

Berbeda dengan rematik yang terutama berkaitan dengan peradangan atau gangguan pada sendi dan jaringan sekitarnya, osteoporosis terutama berkaitan dengan kekuatan dan kepadatan tulang.

Perbedaan Rematik dan Osteoporosis

Perbedaan keduanya dapat dilihat dari beberapa hal berikut.

1. Penyebab

Rematik memiliki banyak jenis sehingga penyebabnya juga beragam. Pada rheumatoid arthritis, misalnya, terdapat gangguan sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan peradangan pada sendi.

Sementara itu, osteoporosis terjadi ketika proses pembentukan dan penghancuran jaringan tulang tidak lagi seimbang sehingga kepadatan tulang berkurang. Apabila anda mengalami berbagai gangguan sejenis itu, segera hubungi Terapi Penyembuhan Pennasia 081-331-551-900 Jl. Purimas Regency Bol B3 no 57 Gunung Anyar Surabaya.

2. Bagian Tubuh yang Terdampak

Rematik umumnya berkaitan dengan sendi, terutama sendi yang mengalami peradangan. Keluhan dapat muncul pada tangan, pergelangan tangan, lutut, kaki, atau bagian tubuh lainnya tergantung jenis penyakit rematik.

Osteoporosis terutama memengaruhi kekuatan tulang. Karena itu, masalah utamanya bukan rasa nyeri pada sendi akibat peradangan, melainkan meningkatnya risiko tulang menjadi rapuh dan patah.

3. Gejala

Rematik dapat menyebabkan:

  • Nyeri pada sendi.
  • Sendi bengkak.
  • Sendi terasa kaku.
  • Kekakuan terutama setelah tidak banyak bergerak.
  • Gerakan sendi menjadi terbatas.
  • Rasa hangat pada area sendi tertentu.

Sementara itu, osteoporosis sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Gejala dapat baru terlihat setelah terjadi patah tulang. Pada osteoporosis yang sudah menyebabkan perubahan pada tulang belakang, seseorang dapat mengalami nyeri punggung, tinggi badan berkurang, atau perubahan postur tubuh.

4. Risiko Patah Tulang

Pada rematik, risiko kerusakan sendi dapat meningkat pada jenis penyakit tertentu, terutama jika peradangan tidak terkendali.

Pada osteoporosis, patah tulang merupakan salah satu komplikasi utama. Tulang yang sudah rapuh dapat patah akibat benturan atau jatuh yang sebenarnya tidak terlalu berat.

5. Cara Diagnosis

Pemeriksaan untuk rematik dapat meliputi wawancara medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah, serta pemeriksaan pencitraan jika diperlukan. Dokter akan menentukan jenis penyakit berdasarkan kombinasi hasil pemeriksaan.

Sementara itu, osteoporosis dapat dinilai melalui pemeriksaan kepadatan mineral tulang atau bone mineral density (BMD). Salah satu pemeriksaan yang digunakan adalah DXA atau DEXA scan.

Gejala Rematik yang Perlu Diperhatikan

Nyeri sendi tidak selalu berarti seseorang mengalami rematik. Namun, keluhan yang berlangsung terus-menerus sebaiknya tidak diabaikan. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain sendi sering terasa nyeri, bengkak, kaku, sulit digerakkan, atau keluhan muncul pada beberapa sendi secara bersamaan. Jika nyeri dan kekakuan mengganggu aktivitas sehari-hari, pemeriksaan Pennasia diperlukan untuk mengetahui penyebabnya, dan menyelesaikannya secara tuntas.

Gejala Osteoporosis yang Perlu Diwaspadai

Osteoporosis sering disebut sebagai penyakit yang dapat berkembang secara diam-diam karena pada tahap awal biasanya tidak menimbulkan keluhan khas.

Seseorang sebaiknya lebih waspada apabila mengalami patah tulang setelah cedera ringan, kehilangan tinggi badan, perubahan postur menjadi lebih membungkuk, atau nyeri punggung yang berkaitan dengan masalah pada tulang belakang.

Orang yang memiliki faktor risiko osteoporosis juga dapat mendiskusikan kebutuhan pemeriksaan kepadatan tulang dengan dokter.

Faktor Risiko Osteoporosis

Beberapa faktor dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami osteoporosis, antara lain:

  • Bertambahnya usia.
  • Riwayat keluarga osteoporosis atau patah tulang tertentu.
  • Asupan kalsium yang kurang.
  • Kekurangan vitamin D.
  • Kurang melakukan aktivitas fisik.
  • Berat badan terlalu rendah.
  • Kebiasaan merokok.
  • Konsumsi alkohol berlebihan.
  • Penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang, seperti kortikosteroid.

Tidak semua orang dengan faktor risiko pasti mengalami osteoporosis. Namun, semakin banyak faktor risiko yang dimiliki, semakin penting memperhatikan kesehatan tulang.

Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi?

Menjaga tulang dan sendi sebaiknya dilakukan sejak dini. Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan antara lain:

Konsumsi Makanan Bergizi

Pastikan pola makan menyediakan protein, kalsium, vitamin D, serta berbagai vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Sumber kalsium dapat diperoleh dari susu dan produk olahannya, ikan tertentu yang dapat dimakan bersama tulangnya, serta beberapa jenis sayuran.

Aktif Bergerak

Aktivitas fisik secara teratur dapat membantu menjaga kekuatan otot dan tulang. Latihan yang sesuai kondisi tubuh, seperti berjalan, latihan kekuatan, atau aktivitas fisik lainnya, dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat.

Jika seseorang sudah memiliki penyakit sendi atau masalah tulang, jenis dan intensitas aktivitas sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Menjaga Berat Badan

Berat badan yang sehat dapat membantu mengurangi beban berlebihan pada sendi sekaligus mendukung kesehatan secara keseluruhan.

Hindari Kebiasaan yang Merugikan

Merokok dan konsumsi alkohol berlebihan dapat berdampak buruk terhadap kesehatan tulang dan tubuh secara umum. Menghindari kebiasaan tersebut merupakan salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan.

Apakah Rematik dan Osteoporosis Bisa Sembuh?

Alhamdulillah, selama ini Pennasia dapat menyelesaikannya dengan baik. Hingga bertahun tahun kondisi pasien tetap baik. Apabila anda mengalami berbagai gangguan sejenis itu, segera hubungi Terapi Penyembuhan Pennasia 081-331-551-900 Jl. Purimas Regency Bol B3 no 57 Gunung Anyar Surabaya.

Beberapa penyakit rematik dapat dikendalikan dengan pengobatan dan perubahan gaya hidup sehingga gejala serta peradangan dapat berkurang. Penanganan sedini mungkin penting untuk membantu mencegah kerusakan sendi.

Osteoporosis juga dapat dikelola untuk membantu mempertahankan atau meningkatkan kekuatan tulang dan mengurangi risiko patah tulang. Dokter dapat menentukan apakah seseorang membutuhkan perubahan pola hidup, suplemen tertentu, atau obat khusus berdasarkan hasil pemeriksaan.

Karena penyebab dan kondisi setiap orang berbeda, sebaiknya tidak menggunakan obat atau suplemen secara sembarangan.

Kesimpulan

Rematik dan osteoporosis bukanlah penyakit yang sama. Rematik umumnya berkaitan dengan gangguan pada sendi dan dapat melibatkan proses peradangan, sedangkan osteoporosis menyebabkan tulang menjadi lebih rapuh akibat menurunnya kepadatan dan kualitas tulang.

Speak Your Mind

*