{"id":87,"date":"2011-09-19T06:19:39","date_gmt":"2011-09-19T06:19:39","guid":{"rendered":"http:\/\/www.sembuhalami.com\/artikel\/?p=87"},"modified":"2019-06-10T04:49:19","modified_gmt":"2019-06-10T04:49:19","slug":"merokok-dan-kebodohan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sembuhalami.com\/artikel\/merokok-dan-kebodohan.html","title":{"rendered":"Merokok dan Kebodohan"},"content":{"rendered":"<h2 style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #800080;\"><strong>Merokok dan Generasi Bodoh.<\/strong><\/span><\/h2>\n<p>Pemerintah seharusnya menggalakkan agrobisnis yang lain, menggantikan petani menanam tembakau. Gantikan tembakau dengan tanaman yang bergizi dan bernilai tinggi. Pegawai pabrik rokok dididik dengan berbagai ketrampilan yang prospektif. Karena merokok dapat mengakibatkan kerusakan sel otak, munculnya generasi bodoh, dan munculnya kanker paru. Yang lebih ringan, tentu sakit batuk dan bronchitis.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.sembuhalami.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2011\/09\/merokok-dan-kebodohan.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignright size-medium wp-image-914\" title=\"merokok dan kebodohan\" src=\"http:\/\/www.sembuhalami.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2011\/09\/merokok-dan-kebodohan-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"200\" \/><\/a>Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship di beberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, &#8220;Mengapa Yahudi Pintar?&#8221;<br \/>\nKetika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa Tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?<br \/>\nMaka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu <strong>hampir delapan tahun<\/strong>. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.<\/p>\n<p>Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.<br \/>\nStephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika.<\/p>\n<p>Stephen bertanya, \u201cApakah ini untuk anak kamu?\u201d<br \/>\nDia menjawab, &#8220;Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius.&#8221;<br \/>\nHal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya.<br \/>\nKembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai tiba saat melahirkan.<\/p>\n<p>Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan <strong>ikan tanpa kepala<\/strong> (sekali lagi, tanpa kepala!) bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan.<br \/>\nMenurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. Menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.<\/p>\n<p>Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, \u201cPerhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet)\u201d ungkapnya.<br \/>\n<strong>Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging<\/strong>. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.<br \/>\nUniknya, mereka akan makan <strong>buah-buahan dahulu sebelum hidangan utama<\/strong>. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah-buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk. Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.<\/p>\n<p><strong>Merokok adalah tabu.<\/strong> Bila Anda diundang makan di rumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka.<\/p>\n<p>Menurut ilmuwan Israel, penelitian menunjukkan <strong>nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia<\/strong> dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan dari saintis gen dan DNA Israel.<\/p>\n<p>Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).<\/p>\n<p>Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. <strong>Rata-rata mereka memahami tiga bahasa: <\/strong>Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban.<br \/>\nMenurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar.<br \/>\nIni menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi.<\/p>\n<p>Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, \u201cPerbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!\u201d katanya.<br \/>\nSegala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi, olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah <strong>memanah, menembak dan berlari<\/strong>.<br \/>\nMenurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat <strong>melatih otak fokus<\/strong>. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.<br \/>\nSelanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius.<br \/>\nApa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi.<\/p>\n<p>Satu lagi yg diberi keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Di akhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Dam mereka harus mempraktekannya.<br \/>\nAnda hanya akan lulus jika tim Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta!<\/p>\n<p>Anda terperanjat?<br \/>\nItulah kenyataannya. Entrpreneurship dan networking digelorakan.<br \/>\nKesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?<\/p>\n<p><strong>BAGAIMANA PERBANDINGAN PERHATIAN PEMERINTAH INDONESIA DALAM MEMBINA GENERASI PENERUS DIBANDING DENGAN NEGARA TETANGGANYA?<\/strong><br \/>\nAmbil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Contoh yang penulis ambil sederhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal (supaya rakyatnya tidak merokok?).<\/p>\n<p>Benarkah merokok dapat melahirkan generasi \u201cGoblok!\u201d kata Goblok bukan dari penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini.<\/p>\n<p>\u201cLihat saja Indonesia,\u201d katanya seperti dalam tulisan itu.<br \/>\nJika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asak rokok! Berapa harga rokok? Cuma US$ .70cts !!!<\/p>\n<p>\u201cHasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Di tangga berapakah kedudukan mereka di pertandingan matematika sedunia?<\/p>\n<p>Apakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri?\u201d<\/p>\n<p>Sumber: email seorang teman.<br \/>\nSaran: Kalau Anda menyayangi anak dan keturunan Anda, tinggalkanlah merokok. Meskipun pemerintah tidak peduli kualitas keturunan Anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Merokok dan Generasi Bodoh. Pemerintah seharusnya menggalakkan agrobisnis yang lain, menggantikan petani menanam tembakau. Gantikan tembakau dengan tanaman yang bergizi dan bernilai tinggi. Pegawai pabrik rokok dididik dengan berbagai ketrampilan yang prospektif. Karena merokok dapat mengakibatkan kerusakan sel otak, munculnya generasi bodoh, dan munculnya kanker paru. Yang lebih ringan, tentu sakit batuk dan bronchitis. Artikel&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[66],"tags":[],"class_list":["post-87","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-merokok"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sembuhalami.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sembuhalami.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sembuhalami.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sembuhalami.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sembuhalami.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=87"}],"version-history":[{"count":13,"href":"https:\/\/sembuhalami.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":89,"href":"https:\/\/sembuhalami.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87\/revisions\/89"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sembuhalami.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=87"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sembuhalami.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=87"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sembuhalami.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=87"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}